Dari Umai ke Jurung: Pengetahuan Leluhur Masyarakat Adat Dayak Tomun dalam Menjaga Padi Lokal
LAMANDAU — Sebelum padi tersimpan di lumbung, ada rangkaian pengetahuan yang menyertai perjalanan panjangnya, mulai dari menentukan lokasi ladang, memilih benih, hingga memanen hasilnya. Bagi masyarakat adat Dayak Tomun di Desa Kinipan, Kecamatan Batang Kawa, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, rangkaian tersebut merupakan bagian dari sistem pertanian tradisional yang dikenal sebagai Umai. Praktik ini tidak hanya menyediakan pangan bagi keluarga, tetapi juga merekam pengetahuan leluhur tentang cara mengelola lahan dan memanfaatkan alam.
Sistem umai menerapkan pola berladang gilir balik yang dipadukan dengan kebun campuran atau agroforestri. Sebelum membuka ladang, masyarakat menentukan lokasi berdasarkan siklus pemanfaatan lahan dan mengawali prosesnya dengan muka arah, yaitu meminta izin sebagai bentuk penghormatan terhadap alam dan leluhur.
Persiapan lahan dilakukan melalui nabas dan tebang, dilanjutkan nimbuk dan nimbung, yakni pembakaran terkendali secara bergotong royong dengan membuat sekat api untuk mencegah api meluas. Abu pembakaran dimanfaatkan sebagai sumber unsur hara bagi tanah. Memasuki masa tanam atau nugal, laki-laki membuat lubang tanam, sementara perempuan memasukkan benih padi lokal. Tanaman kemudian dirawat melalui ngerubas hingga tiba masa panen atau ketam. Rangkaian ini memperlihatkan bagaimana pengetahuan bertani, gotong royong, dan nilai adat menyatu dalam kehidupan masyarakat adat Dayak Tomun.
Perjalanan padi tidak berhenti ketika panen selesai. Hasil panen disimpan di jurung, lumbung padi tradisional masyarakat adat Dayak Tomun untuk menjaga persediaan pangan keluarga. Di Desa Kinipan, keberadaan jurung menjadi salah satu aspek kehidupan pertanian yang ditinjau dalam kunjungan tim Proyek Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI) pada Jumat (16/10/2026). Lumbung ini membuka ruang untuk memahami hubungan antara hasil panen, penyimpanan pangan, dan pengetahuan masyarakat adat dalam mempertahankan praktik pertanian lokal.
Penyimpanan padi juga berkaitan dengan upaya menjaga keberlanjutan benih lokal. Dalam bahan mengenai konservasi masyarakat adat Dayak Tomun, lumbung komunitas dipandang berpotensi menjadi tempat untuk merawat dan menyimpan beragam benih, termasuk padi gunung, padi pulut, dan padi merah. Perempuan adat, terutama para sesepuh yang memiliki pengalaman dalam mengelola benih, mempunyai peran penting dalam menjaga pengetahuan tersebut. Pertukaran benih antardesa juga dapat menjadi cara untuk mempertahankan keragaman tanaman pertanian pangan agar tidak hilang.
Namun, keberlanjutan pengetahuan ini menghadapi tantangan. Ekspansi perkebunan kelapa sawit berpotensi mempersempit ruang berladang, sementara berkurangnya keterlibatan generasi muda dapat menghambat pewarisan pengetahuan tentang benih dan praktik pertanian tradisional. Di sisi lain, kepastian pengakuan wilayah adat menjadi penting agar masyarakat adat tetap memiliki ruang untuk menjalankan tradisi pertanian sekaligus menjaga lingkungan.
Menjaga warisan pertanian masyarakat adat Dayak Tomun berarti memastikan pengetahuan tentang tanaman dan cara membudidayakannya tetap hidup di tengah perubahan zaman. Melalui Proyek CDCSUI, upaya konservasi di Desa Kinipan diarahkan untuk mengenali potensi padi lokal, talas, dan uwi sekaligus memahami pengetahuan sosial budaya yang menyertainya. Dengan melibatkan masyarakat adat, pelestarian keanekaragaman tanaman diharapkan tidak hanya menjaga varietas tanaman lokal, tetapi juga mempertahankan tradisi yang telah lama hidup dan menjadi bagian dari kehidupan mereka.